Kembangkan Produk UMKM Berbasis Teknologi, Ini PR Pemerintah

Kembangkan Produk UMKM Berbasis Teknologi, Ini PR Pemerintah

VIVA   –  Upaya negeri dalam hal ini Menteri Pemimpin Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan  agar pelaku Jalan Mikro Kecil dan Menegah  memajukan produk-produk berbasis teknologi disambut elok. Para pelaku UMKM pun menguatkan komitmennya mewujudkan hal tersebut.  

Meski demikian, Pemimpin Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengatakan, pelaku usaha meminta adanya langkah konkret pemerintah positif mereka. Seperti, menyediakan anggaran riset dan insentif untuk pengembangan teknologi dan produk.

Bertambah lanjut, dia menjelaskan, pelaku cara di Indonesia sebetulnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk teknologi luhur. Ada pekerjaan rumah (PR) dengan harus dibenahi pemerintah sebagai wujud dukungan dalam mewujudkan hal itu.

Menyuarakan juga:   BPS: Pendapatan 84 Persen Pelaku Usaha Kecil Turun Akibat COVID-19

Di antaranya, mengenai jaminan ketersediaan pasar & dukungan anggaran pada saat di proses pengembangan produk. Selain itu, dukungan pemerintah berupa insentif baik  perpajakan maupun insentif fiskal yang lain bagi masing-masing pelaku usaha selalu masih diperlukan.

“Alokasi anggaran dan insentif ini penting untuk menggairahkan pelaku usaha dalam product development , ” ujar Ikhsan dikutip lantaran keterangannya, Selasa, 15 September 2020.

Tengah itu, Wakil Ketua Umum Aliansi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani juga menegaskan dukungannya biar industri nasional berbasiskan teknologi. Sebab, menurut Shinta, di masa datang, industri harus memiliki nilai tambahan yang baik agar bisa menetap di pasar.  

“Nilai tambah terbesar ada dalam industri berbasis riset, inovasi, serta teknologi yang dikomersialkan sesuai keinginan pasar, ” katanya.

Karena itu, lanjut Shinta, kalau Indonesia ingin menjadi negara maju dalam 20 tahun ke aliran, realisasi investasi di industri berbasis riset dan teknologi sangat penting untuk didorong dari sekarang.  

Meski demikian, ada banyak kendala yang perlu diselesaikan untuk mengembangkan industri berbasis penelitian dan teknologi (ristek) di Indonesia. Mulai dari kendala SDM, keterbatasan modal dan tidak adanya industrial environment yang cukup kondusif untuk pengembangan industri berbasis ristek.  

Itu sebabnya, Shinta mengatakan, prioritas utama yang harus dikerjakan pemerintah adalah membenahi ekosistem industri agar perusahaan-perusahaan berbasis riset & teknologi bisa mulai tumbuh dalam Indonesia.  

Kejadian itu harus berjalan beriringan secara perbaikan kualitas SDM dan infrastruktur pendukung lainnya. Sementara itu, dorongan untuk investasi di bidang ristek harus diperbaiki karena saat ini masih ada masih belum cukup menarik bagi investor.

“Sebagai contoh, UMKM yang mengembangkan produk berbasis teknologi adalah pabrik produk tembakau aternatif, ” ujarnya.  

Merespons situasi tersebut, Sekretaris Umum Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Garindra Kartasasmita menyatakan, pihaknya getol dalam mengembangkan teknologi untuk industri ini. Hendak tetapi ekosistem aturan yang tersedia belum optimal dalam mendukung jalan produk tembakau alternatif dalam negeri.  

Garindra melahirkan saat ini ribuan pengusaha rokok elektrik yang menjadi anggotanya sedang termasuk dalam skala UMKM berangkat menjajaki teknologi ekstraksi nikotin sejak sumber daya lokal. Sayangnya, teknologi tersebut masih diadopsi dari pengkajian dari luar negeri karena Indonesia masih minim kajian ilmiah terpaut hal ini.  

“Kami berharap ada langkah nyata berupa kebijakan dari pemerintah menganjurkan dukungan seluas-luasnya kepada pelaku Pabrik. Khususnya, dalam bentuk regulasi khusus untuk menstimulus pelaku industri dalam berinovasi dan mengembangkan teknologi, ” ungkapnya. (ase)