Isu Terdepak dari MUI, Din: Ya yang Tidak Bersedia

Isu Terdepak dari MUI, Din: Ya yang Tidak Bersedia

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

VIVA   –  Nama Din Syamsuddin tidak lagi log in dalam struktur kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI).   Selain itu, muncul juga pemberitaan bahwa ulama yang mendukung aksi 212 serta ulama yang kritis tidak lagi masuk alias terdepak kepengurusan MUI.

Terkait hal tersebut, Din Syamsuddin angkat bicara. Berdasarkan Din, adanya anggapan dirinya bukan masuk kepengurusan MUI karena bersikap kritis atau mendukung aksi 212, adalah penilaian yang keliru.

“Berita demikian keliru, mengandung insinuasi dan persepsi negatif. Tidak masuknya sejumlah tokoh ke di dalam kepengurusan MUI tidaklah serta merta karena mereka kritis dan pendukung Gerakan 212. Kalau demikian, nanti bisa dipersepsikan yang masuk dalam kepengurusan MUI adalah ulama tidak kritis atau pro pemerintah, inch kata Din, kepada wartawan, Jumat, 27 November 2020.

Baca juga: PKS Beberkan Kronologi Idris  Positif COVID-19 dan Bertemu Habib Rizieq

Din menegaskan, tidak masuknya dalam kepengurusan MUI karena dia yang tak menginginkannya. Karena  Din merasa sudah terlalu lama terlibat di MUI, telah selama 25 tahun, yaitu sejak 1995. Sebagai sekretaris hingga kepengurusan 2015-2020 sebagai ketua Dewan Pertimbangan.

“Saya pribadi tidak terlibat pada gerakan 212. Lalu saya tidak masuk dalam kepengurusan baru adalah karena saya bukan bersedia. Sebelum Munas MUI, ya sudah sampaikan di dalam Rapat Pleno terakhir Dewan Pertimbangan MUI pada 18 November 2020 bahwa saya ingin berhenti dari keaktifan MUI, ” ujar Din.

Dalam kaitan ini, Din juga meminta maaf kepada segenap anggota Wantim MUI yang mendukung agar dirinya tetap memimpin Wantim MUI. Din juga menjelaskan alasannya tidak menghadiri Munas MUI dan mewakilkan kepada Wakil Ketua Wantim MUI Didin Hafiduddin untuk memberi sambutan dan menjadi formatur.

“Sebenarnya ada alasan, yaitu saya mendengar dan mengetahui ada pihak yang ingin menjadi ketua Wantim MUI, dan pengurus MUI. Saya berhusnuzhon mereka ingin berkhidmat di MUI, jadi sebaiknya diberi kesempatan. Biarlah umat yang menilai dan Allah SWT yang mengganjari, ” ujar Noise.

Bagi seorang pejuang, lanjut Din, khususnya pejuang Islam, perjuangan dan pengabdian untuk umat dan bangsa tidaklah terbatas diaplikasikan hanya dalam satu lingkaran organisasi seperti MUI. Tetapi bisa diaplikasikan pada berbagai lingkaran keaktifan.

“Jadi tidak masuk dalam kepengurusan suatu organisasi jangan dianggap sebagai masalah besar, begitu pula masuk dalam kepengurusan bukanlah hal istimewa, ” ujarnya. (ase)