Arkeolog Temukan ‘Kota Emas yang Hilang’ di Mesir

arkeolog-temukan-kota-emas-yang-hilang-di-mesir-1

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

VIVA –  Awak arkeolog dari Mesir sudah menemukan kota kuno terbesar di Mesir  pada keadaan Kamis (8/4/21), dilansir oleh Live Science . Kota yang hilang, yang lumrah sebagai aten terkubur tanah pasir selama 3400 tarikh.

Seorang pandai arkeologi terkenal di Mesir, Zahi Hawass, mengatakan tanah air emas ini ditemukan pada dekat Luxor, rumah sejak Lembah Para Raja dengan legendaris.

Luxor terkenal dengan situs Mesir tertua dan paling kuno, bersama dengan rumah bagi Lembah Para-para Raja. Daerah ini pernah disebut ‘Nekropolis Besar Jutaan Tahun Firaun’, karena sebanyak mumi dan bangunan besar telah ditemukan di Luxor.   (wikipedia)

Kota yang kering ini, diduga merupakan wasiat masa kekuasaan Amenhotep III, ayah dari Amenhotep IV yang berganti nama menjelma Akhenaten.

Ian Shawn dalam bukunya The Dictionary of Ancient Egypt menjelaskan bahwa Amenhotep III merupakan salah satu firaun paling kuat di Mesir, raja kesembilan dari kerabat ke-18 Mesir kuno dengan memerintah dari 1391 hingga 1353 SM.

Amenhotep III mewarisi kerajaan yang membentang dari Sungai Efrat dalam Irak modern dan Suriah hingga Sudan. Ia wafat sekitar 1354 SM. Ia memerintah selama hampir 40 tahun.

Zaman kepemimpinannya terkenal dengan kemewahan dan kemegahan bangunan. Salah satunya adalah Colossi of Memnon, dua patung akik besar di dekat Luxor yang menggambarkan Amenhotep III dan istrinya.

Para Arkeolog mengira Akhenaten membangun kota Akhetaten yang berumur pendek, di mana dia memerintah bersama istrinya, Nefertiti dan menyembah matahari. Setelah kematiannya, putranya dengan masih kecil, Tutankhamun, menjelma penguasa Mesir dan mengalpakan warisan kontroversial ayahnya.

Tetapi mengapa Akhenaten meninggalkan Thebes, yang sudah menjadi ibu kota Mesir kuno selama lebih dari 150 tahun? Jawabannya kira-kira terletak pada penemuan suatu kota metropolis kerajaan industri dalam Thebes yang diwarisi Akhenaten dari ayahnya, Amenhotep III. Penemuan yang dijuluki sebagai “Kota Emas Yang Hilang”

“Informasi berharga ini menegaskan bahwa kota ini aktif dalam waktu pemerintahan Raja Amenhotep III bersama putranya, Akhenaten, ” kata para arkeolog dalam pernyataan resmi pada halaman facebook milik Zahi Hawass.

Namun, beberapa tahun setelah kematian ayahnya, Akhenaten, yang berkuasa sekitar tahun 1353–1336, menetapkan segala sesuatu yang diperjuangkan ayahnya. Selama 17 tarikh pemerintahannya, ia meninggalkan semua panteon tradisional Mesir kecuali satu, dewa matahari Aten.

Akhenaten mentransfer kursi kerajaannya dari Thebes ke Amarna dan mengawasi revolusi artistik yang secara singkat mengubah seni Mesir dari kaku dan serupa menjadi animasi dan uraian.