Analisis Pengamat soal PKB Loyo dalam Pilkada di Basisnya Jawa Timur

Analisis Pengamat soal PKB Loyo dalam Pilkada di Basisnya Jawa Timur

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

VIVA – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tampil loyo pada Pilkada serentak 2020 di 19 kabupaten/kota di Jawa Timur. Bahkan, PKB tak mampu mempertahankan dominasi di beberapa daerah yang sejak lama menjadi basis partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama itu.

Berdasarkan data real count KPU Jawa Timur per Senin siang, 14 Desember 2020, dari 19 kabupaten/kota yang melaksanakan pilkada, PKB hanya mampu mengantarkan satu kadernya, Ahmad Mudhlor yang berpasangan dengan Subandi, di Pilkada Sidoarjo.

Di Kota Pasuruan, PKB berhasil mengantarkan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menjadi wali kota. Tapi ia kini tidak tercatat sebagai kader. Di Kabupaten Blitar, kader baru PKB, Rahmat Santoso, sementara ini unggul dan berpeluang menjadi wakil bupati. Di pilkada sana, ia berpasangan dengan Rini Syarifah.

Baca: Pemerintah Diminta Tak Tutupi jika Ada Klaster COVID-19 akibat Pilkada

Di sisi lain, PKB tak mampu mempertahankan dominasi di beberapa daerah yang semula jadi basis partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar itu, seperti di Kabupaten Sumenep, Gresik, Lamongan, dan Situbondo. Bahkan, di Sumenep, kepemimpinan daerah yang selama empat periode diisi kader PKB kini harus lepas dan diganti kader PDIP, Ahmad Fauzi.

Beda dengan PKB, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri, PDIP, justru tampil perkasa. PDIP meraih kemenangan di 11 pilkada, bertambah dua dari pilkada lima tahun lalu yang menang di sembilan daerah. Bahkan, di beberapa daerah PDIP berhasil merebut kepemimpinan, seperti di Ponorogo, Gresik, dan Sumenep.

Direktur Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo mengatakan, PKB dan PDIP selalu berdiri diametral dalam setiap pilkada di Jatim. Namun, berbeda dari pilkada-pilkada sebelumnya, PKB kali ini tidak seberuntung PDIP. Ada beberapa faktor kenapa itu terjadi. Di antaranya, beberapa partai besar lain, seperti Demokrat dan Gerindra, cenderung seirama dengan PDIP.

Hal itu, katanya, tak lepas dari konstelasi politik secara nasional. “Dalam konteks ini Demokrat dan Gerindra serta PDIP di banyak tempat berhadapan dengan PKB. Maka secara geopolitik, posisi PKB di berbagai daerah yang sedang pilkda relatif kalah positioning,” ujarnya kepada wartawan di Surabaya.

PKB, menurut Mochtar, juga banyak mengusung calon petahana. Menurutnya, hal itu kurang menguntungkan di masa pandemi. Selain itu, banyak tokoh penggerak PKB Jatim yang duduk di pemerintahan sehingga kurang fokus dalam pemenangan pilkada, seperti Abdul Halim Iskandar yang kini menjadi Menteri Desa PDT, Badrut Tamam sebagai Bupati Pamekasan, dan Thoriqul Haq yang kini menjabat Bupati Lumajang.

Pengamat politik dari Indo Publika Asep Irama menganalisis, loyonya PKB menunjukkan preferensi pemilih kian dinamis. Bisa jadi juga karena kaderisasi di internal PKB tidak jalan. Padahal, Jawa Timur merupakan basis PKB. “Persepsi bahwa PKB merupakan representasi atau saluran politik praktis nahdliyin mulai tidak berlaku,” katanya.